Beberapa orang mengenalnya dari sana. Percakapan yang bermula sapaan singkat kadang berlanjut lebih panjang. Tidak selalu tentang cinta, tidak selalu pula tentang keseriusan. Kadang hanya tentang didengar—atau sekadar memastikan dirinya masih dianggap penting oleh orang lain.
Dalam cerita yang beredar di lingkaran kecil, muncul pula gambaran lain: setiap kali dipertanyakan, selalu ada alasan yang disusun rapi. Setiap keraguan dijawab dengan pembenaran. Setiap tudingan dibalik menjadi kisah tentang dirinya yang merasa disalahpahami.
Sikap mencari pembelaan diri ini, menurut pengamat psikologi keluarga, kerap menjadi mekanisme pertahanan ketika seseorang belum siap menghadapi kenyataan yang tidak nyaman.
“Manusia cenderung melindungi citra dirinya. Pembenaran sering muncul bukan karena ingin menipu orang lain, tetapi karena sulit menerima kesalahan sendiri,” ujar seorang konselor keluarga.
Di ruang digital, batas antara cerita dan kenyataan memang mudah bergeser. Seseorang dapat memilih bagian mana yang ingin dipercaya orang lain—bahkan kadang juga oleh dirinya sendiri.
Editor : Ifan Jafar Siddik
Artikel Terkait
