Persoalan ini tidak berhenti pada dalil normatif. Ketika status palsu terungkap, yang rusak bukan hanya reputasi, tetapi juga hati dan kepercayaan.
Pasangan sah bisa merasa dikhianati. Pihak yang merasa tertipu bisa mengalami trauma emosional. Anak-anak, keluarga besar, bahkan lingkungan kerja dapat ikut terdampak.
Apa yang bermula dari “sekadar coba-coba” di aplikasi kencan, bisa berujung pada retaknya rumah tangga.
Teknologi tidak pernah salah. Aplikasi hanyalah alat. Yang menentukan arah adalah integritas penggunanya.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, mungkin tantangan terbesar umat hari ini bukan sekadar menjaga pandangan di dunia nyata, tetapi juga menjaga kejujuran di dunia maya.
Status di aplikasi bisa diubah dalam hitungan detik. Namun status sebagai suami atau istri adalah amanah yang tak boleh dipermainkan.
Karena pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya hubungan—melainkan iman.
Editor : Ifan Jafar Siddik
Artikel Terkait
