“Secara filosofis, kemiskinan akan selalu ada dalam setiap negara, bahkan di negara maju sekalipun, karena berbagai faktor seperti pemutusan hubungan kerja atau kehilangan pencari nafkah. Karena itu, bantuan harus benar-benar diberikan kepada mereka yang membutuhkan,” ujarnya.
Namun dalam pelaksanaannya, Deni menilai distribusi MBG masih belum sepenuhnya efektif. Ia menemukan adanya fenomena sejumlah siswa yang tidak mengonsumsi makanan dari program tersebut karena telah membawa bekal dari rumah atau memesan makanan dari layanan katering.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi menimbulkan food waste atau pemborosan makanan akibat distribusi bantuan yang kurang tepat sasaran.Untuk mengatasi persoalan tersebut,
Deni mengusulkan agar penyaluran bantuan tidak hanya berbasis sekolah atau komunitas, tetapi juga terintegrasi dengan data penerima bantuan sosial melalui KIP maupun KIS.
Editor : Furqon Munawar
Artikel Terkait
