Tangga Riung Gunung dan Harapan untuk Dibuka Kembali
Cerita tentang Riung Gunung selama puluhan tahun bertahan melalui ingatan orang-orang yang pernah datang, foto lama, serta arsip sejarah.
Salah satunya adalah Wiwin Trinarti, dosen Program Studi Arab FIB Universitas Indonesia, yang pernah mengunjungi kawasan tersebut pada dekade 1980-an.
Wiwin mengaku pernah dua kali datang ke Riung Gunung. Salah satunya pada 1983 ketika mengikuti kegiatan inisiasi mahasiswa baru Program Studi Arab UI.
Namun, saat itu mahasiswa telah diingatkan untuk tidak menggunakan tangga Riung Gunung karena kondisinya dinilai sudah kurang terawat.
“Saya pernah dua kali ke sana, salah satunya pada tahun 1983 untuk kegiatan inisiasi mahasiswa baru Program Studi Arab UI. Sejak awal, kami sudah diingatkan untuk tidak menggunakan tangga Riung Gunung karena kondisinya kurang terawat.”
Menurut Wiwin, keberadaan tangga dan jembatan di kawasan tersebut sebenarnya memiliki potensi untuk kembali dimanfaatkan masyarakat.
Namun, pemanfaatan kembali harus dilakukan dengan memperhatikan aspek keselamatan sekaligus mempertahankan nilai sejarahnya.
“Ke depan, saya berharap tangga dan jembatan tersebut dapat kembali digunakan. Pastinya harus melibatkan pihak-pihak yang betul-betul tahu tentang konstruksinya, agar bisa dimanfaatkan oleh banyak orang, tapi juga tidak kehilangan nilai historisnya.”
Kini, setelah foto tangga tersebut kembali viral di media sosial, perhatian publik terhadap Vila Riung Gunung pun ikut muncul.
Tangga yang selama ini dianggap sekadar bagian dari lanskap Jalan Raya Puncak ternyata menjadi akses menuju sebuah bangunan yang menyimpan cerita panjang tentang sejarah Puncak.
Di balik pepohonan dan tangga yang tampak misterius itu, tersimpan jejak sebuah tempat yang pernah menjadi Riung Gunung Coffee House, lokasi persinggahan pada era 1960-an yang pernah bersinggungan dengan perjalanan Soekarno dan sejumlah tokoh negara.
Bagi sebagian orang, tangga itu mungkin hanya menjadi objek foto yang menarik perhatian di media sosial.
Namun bagi sejarah Puncak, tangga tersebut merupakan bagian dari perjalanan sebuah kawasan yang pernah menjadi salah satu ruang penting dalam sejarah Indonesia.
Editor : Ifan Jafar Siddik
Artikel Terkait
