Dari proses tersebut diperoleh minyak pada lapisan teratas yang kemudian dianalisis. Hasil analisis menunjukkan minyak tersebut memiliki kandungan asam lemak omega-3 yang tinggi.
Kandungan DHA tercatat mencapai 33,44 persen, sementara total omega-3 mencapai 40,10 persen dari profil asam lemak minyak yang diperoleh. Minyak dari mata tuna tersebut selanjutnya dikembangkan menjadi inovasi pangan laut dengan konsep menyerupai Turkish delight.
Produk ini dipadukan dengan serat yang berasal dari sumber daya akuatik, buah tropis, rempah, dan bunga. Formulasi Helbygoom juga dikembangkan dengan mengurangi penggunaan gula pasir. Tidak berhenti pada tahap riset, Helbygoom telah melalui sejumlah tahapan pengembangan, mulai dari formulasi, pengujian mutu, penerimaan konsumen hingga pengujian pasar awal.
Saat ini Helbygoom memiliki tujuh varian, yakni rosela, jeruk, buah naga, pandan, bunga telang, jahe, dan susu. Selain dikembangkan sebagai camilan fungsional, produk tersebut juga berpotensi menyasar berbagai kebutuhan konsumen, mulai dari makanan pendamping, oleh-oleh, hadiah, hamper, hingga produk retail.
Tidak hanya memamerkan produk, Prof Wini Trilaksani juga menjadi bagian dari Food Ingredients Asia Conference untuk mempresentasikan pengembangan marine-derived omega-3. Riset tersebut mengembangkan ekstraksi omega-3, khususnya DHA, dari mata tuna sebagai salah satu sumber bahan pangan fungsional.
Editor : Furqon Munawar
Artikel Terkait
