Kepala Laboratorium Instrumentasi dan Monitoring Lingkungan Hidup PPLH IPB University, Tubagus Ahmad Mufawwaz, mengatakan sistem tersebut mengintegrasikan sejumlah sumber data penginderaan jauh satelit.
Integrasi itu memungkinkan informasi mengenai indikasi kebakaran dan perubahan kondisi atmosfer ditampilkan dalam satu platform secara spasial dan temporal.
“Dengan sistem near-real time ini, informasi terbaru dapat diperbarui dan dipublikasikan setiap hari lewat dashboard WebGIS. Data historis juga tetap tersimpan sehingga kita dapat mengikuti perkembangan kejadian dari waktu ke waktu,” kata Mufawwaz.
Menurutnya, keberadaan data historis menjadi penting karena pengguna tidak hanya dapat melihat kondisi pada satu hari tertentu.
Data titik panas dan kondisi atmosfer dapat dibandingkan untuk melihat keterkaitan antara kejadian karhutla dengan perubahan kualitas udara.
Editor : Furqon Munawar
Artikel Terkait
