Para wali murid menyayangkan jika program yang digagas presiden dengan tujuan mulia untuk meningkatkan gizi anak-anak Indonesia justru dalam pelaksanaannya di tingkat bawah terkesan melenceng dari semangat awal.
Mereka menilai jangan sampai program yang seharusnya memperbaiki kualitas gizi anak malah terkesan dijadikan ladang keuntungan oleh pihak tertentu, tanpa memperhatikan kualitas makanan yang diterima siswa.
Situasi ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat: jika dapur penyedia memiliki reputasi sebagai percontohan nasional dengan pengawasan ketat, mengapa di lapangan masih muncul keluhan soal kualitas makanan?
Para orang tua berharap polemik ini tidak dianggap sepele. Mereka meminta adanya evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG, baik dari sisi distribusi, pengawasan, hingga kualitas makanan yang sampai ke tangan siswa.
Menurut mereka, program yang baik jangan sampai tercoreng hanya karena lemahnya pengawasan dalam pelaksanaannya.
“Ini harus menjadi evaluasi bersama. Programnya bagus untuk gizi anak-anak, tapi jangan sampai di bawah justru merusak tujuan itu,” ujar wali murid tersebut.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak SPPG Mekarwangi 5, Yayasan Jabal Quran Indonesia, maupun pihak sekolah terkait keluhan para wali murid tersebut.
Editor : Ifan Jafar Siddik
Artikel Terkait
