Pada siang hari, permukaan bumi menerima dan menyimpan energi panas dari matahari. Ketika malam tiba, energi tersebut dilepaskan kembali.
Jika kondisi atmosfer kering dan langit cerah, proses pelepasan panas menjadi lebih efektif sehingga suhu permukaan dan udara di dekat permukaan dapat turun lebih cepat. Bagi kawasan Puncak Bogor yang berada di dataran tinggi, kondisi tersebut membuat udara malam terasa semakin dingin bagi warga maupun wisatawan.
Fenomena udara dingin tersebut juga terjadi bertepatan dengan periode puncak musim kemarau 2026.BMKG sebelumnya menyampaikan bahwa musim kemarau 2026 datang lebih awal dan puncaknya diprediksi terjadi pada Agustus di sebagian besar wilayah Indonesia.
Dengan demikian, udara Puncak yang terasa dingin menjelang sore hingga malam bukanlah fenomena yang berdiri sendiri. Kondisi tersebut merupakan hasil interaksi antara pola angin monsun, karakter massa udara, kelembapan, tutupan awan, serta proses pelepasan panas dari permukaan bumi.
"Jadi, suhu dingin yang dirasakan warga maupun wisatawan di Puncak saat musim kemarau merupakan hasil interaksi antara pola angin monsun Australia, massa udara yang relatif kering, kondisi langit, serta proses pendinginan radiatif setelah matahari terbenam,” tandas Givo.
Editor : Furqon Munawar
Artikel Terkait
